"Aku" atau "Saya"?

Bismillahirrahmanirrahim,


Ini adalah ruang untuk menuliskan keluh kesah dan rasa syukur saya sebagai calon dokter, atau istilahnya DM (Dokter Muda). Tidak semua dari tulisan saya ini patut untuk diikuti, tapi saya berharap setiap yang membaca tulisan saya bisa mengambil pelajaran. Tulisan -atau lebih tepatnya ketikan- ini saya mulai 2 minggu sebelum saya koas. cerita-cerita yang akan saya ungkapkan adakalanya flashback ke kehidupan saya selama kuliah di kampus (pre-klinik) atau terkadang isi kepala saya juga. Pilih dan pilahlah sendiri yang menurutmu sebuah pelajaran yang dapat kamu ambil dan yang hanya sebuah omong kosong saya. Sedikit terlambat untuk memulai, tapi saya akan senang jika sudah memulainya. Tulisan ini juga bukan dari penulis veteran, tapi saya yakin akan semakin bagus nantinya jika saya terbiasa. Semoga saya bisa istiqomah. 

Akan lebih menyenangkan bila "saya" menjadi "aku". tapi entahlah, suara dalam kepalaku mengatakan kalau "aku" sedikit menunjukkan kepemilikan atas diri sendiri. Saya tidak begitu suka menaruh kata "aku" disini sejatinya setiap manusia tidak memiliki dirinya sendiri. Benar atau tidaknya bergantung pada pemikiran setiap manusia. Tapi jika saya memberikan imbuhan "ke-" dan "-an" pada dua kata itu, akan terlihat berbeda. Cobalah bayangkan kata "ke-aku-an" dan "ke-saya-an" di benak kalian. Ini hanya masalah perspektif saja, tapi dua kata ini punya makna yang tendensius pada benak saya. Ketika saya membayangkan kata "ke-aku-an" pada benak saya, ada rasa memiliki, mempunyai, dan berhak atas jiwa ataupun raga saya. Tetapi tidak dengan kata "ke-saya-an", tidak ada bayangan apapun pada kata itu.

Komentar